Motivasi Untuk Pelajar Indonesia


Halo teman teman, perkenalkan namaku Reyhan, pelajar SLTA asal Bukittinggi. Pada kesempatan kali ini, aku akan menyampaikan sebuah ringkasan mengenai pengalamanku 9 tahun menempuh pendidikan. Kenapa pelajar wajib baca? Karena di dalam artikel ini terdapat pelajaran agar teman teman tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang pernah aku lakukan. Teman teman penasaran? Silahkan baca artikel ini sampai selesai.

A. Pengalamanku Dalam Menjalani Pendidikan.

SD N 17 Sanjai, itulah sekolahku, sekolah sederhana yang berlokasi di dekat rumahku. Aku bukan seorang siswa yang hebat. Malas belajar, nilai yang rendah, nakal, dan tidak patuh, identik denganku. Ketika berangkat sekolah, yang ada di pikiranku hanya main, berkelahi, main, dan berkelahi lagi. Pada masa itu, sekolah bukanlah prioritasku. Namun, yang menjadi prioritasku tentu saja bermain. Nah teman teman, di masa sekolah dasar ini aku akan menceritakan sebuah pengalaman yang paling ekstrim bagiku.

Sebelumnya, aku telah menyampaikan bahwa aku adalah anak yang nakal, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kali ini aku menceritakan tentang kenakalanku, bukan prestasiku. Sebenarnya aku malu menceritakannya, tapi demi kepuasan batin teman teman, aku rela kok :D

Cerita ini terjadi di jam pelajaran olahraga. Biasanya permainan olahraga yang diminati oleh kelas kami adalah permainan sepak bola dan permainan bola basket. Bagi kami, tidak menyenangkan jika berolahraga menggunakan sepatu. Oleh karena itu, kami melepas sepatu kami 5 menit sebelum masuk jam pelajaran olahraga. Di waktu melepas sepatu, disitulah insting jahatku muncul. Aku mengambil kaus kakiku yang seharum mawar itu, kemudian aku menempelkannya ke mulut beberapa orang temanku. awalnya mereka ngakak aja, sampai salah seorang temanku bernama Asep (nama samaran) melaporkan kejadian ini kepada pihak guru. Sehingganya aku dipanggil dan disuruh untuk ke kantor.

Aku lihat semua guru memperhatikanku seraya menggelengkan kepala. Lalu dengan santainya aku bertanya kepada salah satu dari mereka. "Ada apa pak?" Begitulah aku bertanya. Namun, guru tersebut tidak menjawab pertanyaanku. Ketika aku keluar dari kantor, mereka melarangku. Aku disuruh untuk menanti hingga orang tuaku menjemputku. Teman teman tau apa yang terjadi? Ya jelaslah, aku menangis membayangkan betapa kejamnya mereka kepada diriku. Sudah empat jam berlalu, mataku serasa dijemur karena telah kehabisan stock air mata, sekolah pun mulai sepi. Namun, orang tuaku tak kunjung datang. Mungkin karena kasihan atau malas menunggu, salah seorang guru yang masih di lingkungan sekolah mengizinkanku untuk pulang, barulah aku bahagia setelah empat jam berpura pura menangis. By the way, ini adalah pengalaman menyenangkan ketika aku masih di kelas satu sekolah dasar :D

Untuk kelakuanku di kelas dua dan di kelas tiga sekolah dasar sepertinya tidak jauh berbeda dengan kelas satu. Aku tetap nakal, tetap malas, tidak patuh, dan tetap bandel. Namun tidak ada peristiwa besar yang terngiang di ingatanku. Bagaimanapun juga, sesekali aku bisa meraih juara kelas karena sifat teman temanku tidak jauh berbeda dariku :D Kami tidak mengenal yang namanya persaingan. Jadi, juara maupun tidak juara kami tidak peduli
Astaghfirullaahal 'Azhiim AKU INI BERDOSA BANGETT :(

Di kelas empat sampai kelas lima sekolah dasar, aku sudah mulai berakal, sudah mulai tau mana yang baik dan mana yang buruk. Nilaiku pun sudah meningkat dibanding kelas kelas sebelumnya. Guru guru yang awalnya menyudutkanku, kini mulai menyayangiku. Setelah menamatkan pendidikan di sekolah dasar, aku mulai mencari cari sekolah untuk melanjutkan pendidikanku. Awalnya sih aku berniat untuk bersekolah di pesantren. Namun, aku pernah ditakut takuti oleh temanku yang mengatakan bahwa pesantren itu gurunya pemarah, tidak bisa main, dan tidak boleh pulang. Ya, tentu saja aku takut. Sehingga aku memilih alternatifnya yaitu Madrasah Tsanawiyah.

Dalam melamar pendidikan, teman temanku melamar lebih dari satu sekolah dengan alasan memiliki cadangan jika mereka tidak diterima di sekolah yang mereka lamar. Namun, prinsip itu tidak berlaku bagiku. Aku hanya memilih satu sekolah yaitu MTsN 1 BUKITTINGGI yang mana sekolah ini termasuk populer di kota ku. Dengan niat dan usaha maksimal, akhirnya aku di terima di sekolah ini. Tentu aku bahagia :D

Nah, disinilah hal yang mengejutkan terjadi. Dengan hati yang berdebar debar, aku melihat siswa siswi yang ada disekolah ini memiliki sifat yang berlawanan denganku dan jauh berbeda dari sifat teman temanku di waktu sekolah dasar yang heboh, kocak, dan menyenangkan bagiku. Di Madrasah Tsanawiyah ini, aku juga melihat banyak cewek cantik yang mana gaya berjalannya pun ada yang seperti model India :v . Jujur, aku benar benar bingung bagaimana caraku beradaptasi dengan orang orang elit seperti mereka.

Dalam belajar pun aku canggung karena metode belajar di sekolah ini jauh berbeda dengan metode belajar di waktu sekolah dasar. Nilaiku yang dulunya sudah lumayan bagus, sekarang menjadi drop, aku yang biasanya berada pada peringkat 10 teratas, sekarang aku berada di peringkat tiga puluh teratas.

Sampailah masa penerimaan hasil belajar semester satu. Yang mana pada saat itu seluruh nilai dihimpun menjadi satu. Sebenarnya aku tidak berani dan tidak tega melihat laporan nilaiku yang begitu jelek. Namun, apapun alasannya, aku harus tau hasil belajarku selama satu semester. Nyatanya aku kaget setengah kayang ketika melihat peringkatku yang berada pada posisi beberapa angka terakhir. Aku berniat untuk menyembunyikan hal ini dari ibunda yang sangat aku sayangi karena aku yakin bahwa dengan melihat laporan nilaiku akan membuatnya sedih. Namun kenyataan tidak sesuai dengan rencanaku. Ibundaku ternyata sudah mengetahui bahwa ini adalah hari penerimaan laporan hasil belajarku. Sehingga aku terpaksa memperlihatkannya kepada ibundaku.

Sesuai, bahkan melebihi dugaanku. Ibundaku tersenyum. Namun, senyumannya diiringi oleh linangan air mata. Anak mana yang tidak sedih melihat ibunda yang dia cintai menangis di hadapannya. Aku berusaha menghiburnya dengan berjanji akan berubah sepenuhnya. Tak kusangka, tiba tiba suasana hatiku benar benar berubah seratus persen. Yang awalnya aku selalu merasa malas, menjadi haus akan belajar, nilaiku pun banyak yang meningkat hingga kenaikan kelas delapan, aku ditempatkan di lokalnya para siswa unggulan. Begitu pula ketika aku naik ke kelas sembilan (kelas tiga SLTP/ SMP).

Sayangnya, di kelas sembilan ini, rasa jenuh akan belajar muncul lagi di dalam diriku. Namun, hal ini tidak seburuk seperti yang telah terjadi di saat aku kelas tujuh. Nilaiku yang tadinya sudah bisa dikatakan hebat, perlahan mulai menurun. Aku mulai lupa dengan tujuanku bersekolah, aku mulai mengikuti pergaulan yang tidak jelas, sibuk bermain handphone, bahkan aku pernah mendekati anak gadis orang. Untungnya aku lulus sekolah melalui jalur Covid- 19 yang mana pada saat itu sekolah mulai diliburkan dan ujian nasional di tiadakan. Dan sekarang aku menempuh pendidikan baruku di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.


Aku yakin bahwa teman teman paham apa pelajaran yang dapat dipetik dari pengalamanku ini.

  1. Hidup itu seperti roda yang berputar. Ada masanya kita dibawah, dan ada pula masanya kita diatas. Jangan nilai kehidupan seseorang hanya karena saat ini kita melihat orang itu memiliki keburukan, karena akan ada masanya orang itu berada di posisi yang baik.
  2. Fokus pada target target yang ingin dicapai, usahakan untuk tidak memberi cabang pada pilihan kita.
  3. Jadikan orang tua sebagai kunci keberhasilan dan motivasi yang hebat.
  4. Jika teman teman berada pada masa yang teman teman anggap buruk, jangan khawatir. Jalani saja sebaik mungkin. Jangan jadikan masa masa buruk teman teman sebagai alasan untuk menyerah. Nilai drop bukanlah hal yang buruk, keadaan jatuh bukanlah hal yang buruk, hal yang buruk adalah ketika kata menyerah muncul di pikiran teman teman.

STAY STRONG, KEEP SMILE :)


Semoga artikel ini dapat menjadi solusi dari permasalahan teman teman, tetap setia mengunjungi blog ini karena InsyaAllaah aku akan rutin update info info menarik lainnya. Jangan lupa hadirkan komentar teman teman agar kita bisa saling berkomunikasi.


TERIMA KASIH :D

Komentar